PENDEKAR SAKTI BUKIT SAMBONG

Iklan Semua Halaman

Header Menu

PENDEKAR SAKTI BUKIT SAMBONG

AGUS TAHER
Rabu, 05 Februari 2020

Cerita silat Pendekar Sakti Bukit SAM BONG ini merupakan fiksi yang diperkuat dengan fakta sejarah. Kisahnya mengambil masa di akhir pemerintahan dinasti Yuan, sekitar tahun 1360-an. Dinasti Yuan adalah pemerintahan bangsa Mongol yang menjajah Tiongkok.  Masa cerita ini terjadi bersamaan dengan kejayaan Majapahit dan Pagaruyung.  Saat itu,  bangsa Cina begitu terzalimi dan tertindas.

Penjajahan dalam bentuk apapun selalu dimulai dengan persekongkolan jahat. Dalam kisah ini diurai, bahwa pengkhianat Cina yang terdiri dari mantan jendral, budayawan, cendekiawan dan pendekar, bersekongkol dengan penguasa Yuan, bangsa Mongolia, pimpinan Kublai Khan. Demi uang dan cari aman, tergadai habis semuanya di Tiongkok.

Yang paling tragis adalah kemunculan geng Tse Bong. Kelompok ini merupakan mafia bisnis dan politik, yang dibina oleh penjajah Mongolia, yang tugasnya sebagai mesin uang dalam bisnis candu, pelacuran, judi, kayu dan infrastruktur, disamping “tukang tunjuak”, serta produsen Hoax utama, dan pemeras rakyat.

Namun, seganas apapun penjajah, bumi tertindas itu tetap saja melahirkan pejuang. Dan, pejuang utama dalam cerita silat ini adalah seorang anak muda dari Han Pha Njang, bernama Gan Fau Zci, murid satu-satunya pendekar sakti Bulek Sansu. Ia terpaksa meninggalkan kekasihnya Lin Hwa, memburu jejak Bulek Sansu yang sudah lama bersemedi di belantara Bukit SAM BONG.

Akhirnya. semua ilmu tersakti dan senjata pusaka paling dicari di Tiongkok, Pedang Penebas Naga, Ia warisi.  Disinilah, kisah cinta Fau Czi dan Lin Hwa yang penuh duka lara itu mewarnai cerita silat ini.

Lebih jauh, dikisahkan bahwa perjuangan kemerdekaan Cina mengakhiri kekuasaan Mongolia, dalam cerita ini juga melibatkan salah seorang pendekar hebat Tiong Bong Kok, yang ketika menjadi penguasa di Sungai Ngiang Minangkabau, lebih dikenal sebagai Tiang Bungkuak.  Ia memiliki keris bungkuk buatan Empu Gandring.

Dengan demikian cerita silat ini tak terlepas dari kehebatan budaya  Cina, Minangkabau dan Nusantara.  Disamping itu, sisi lain dari kehebatan Gajah Mada, canda spesial orang Piaman, dan terpatah-terpatahnya orang Cina berbahasa nusantara, semakin menambah daya pikat cerita silat ini.  Buku ini menjadi amat spesial, ketika heroiknya dunia persilatan, jahatnya politik kekuasaan, pilunya penindasan, serta begitu perihnya dera percintaan dan parodi yang menggelikan, saling memperkuat dan saling memikat.

Barangkali, kisah fiksi yang terjadi enam abad yang lalu itu, bisa juga hadir pada bangsa lain ataupun dalam bentuk lain. Mana tahu benar adanya.

Penulis
Agus Taher