MATRILINI, BUKTI VISIONERNYA LELUHUR MINANGKABAU

Iklan Semua Halaman

Header Menu

MATRILINI, BUKTI VISIONERNYA LELUHUR MINANGKABAU

AGUS TAHER
Rabu, 05 Februari 2020

Dari perspektif kemanusian, maka penggagas Matrilini Minangkabau,sepertinya manusia setengah dewa.  Visi dan misinya lebih spektakular dari semua tokoh yang pernah lahir dari bumi Minangkabau.

Alasannya !  Selain Islam, hanya budaya matrilini Minangkabau-lah yang berjasa memposisikan kaum perempuan sebagai manusia seutuhnya.   Di mata agama samawi lainnya dan agama besar yang dianut umat manusia, termasuk budaya-budaya lainnya, disebutkan begitu hina dan rendahnya martabat kaum perempuan.

Saya tak akan menyebut agama apa dan budaya mana, agar tak menimbulkan fitnah dan dianggap SARA.  Akan tetapi, tulisan ilmiah Dr. Ulya Kencana, S.Ag., M.H. berjudul Wanita Dalam Pandangan Agama dan Bangsa, serta berbagai referensi lainnya menjelaskan persoalan itu.

Kaum perempuan dihinakan dan dizolimi, karena anggapan perempuan sebagai biang masalah. Salah satu agama samawi menyebut, wanita adalah makhluk terkutuk karena Hawa yang membujuk Adam untuk makan buah khuldi yang dilarang Allah. Akibatnya, keduanya terlempar dari sorga.

Agama lainnya, menyuruh seorang istri harus dibakar hidup-hidup bersama suaminya yang mati. Di masyarakat jahiliyah, bayi perempuan yang baru lahir dibakar hidup-hidup.  Bahkan, bangsa Romawi memandang wanita itu sama dengan hewan, kotor dan najis.  Itu sebabnya, pada era kegelapan peradaban, posisi terbaik wanita itu hanya sebagai pemuas nafsu seksual kaum laki-laki.

Di era modern, ketika survai pertanian ke Wamena Papua tahun 1991, saya pun dibuat kaget.  Ibu-ibu Wamena yang saya temui di ladangnya, banyak yang menyodorkan jari-jarinya yang putus untuk difoto. Di Papua berlaku aturan lokal, setiap difoto, harus dibayar.

Di lembah Baliem itu, setiap ada keluarga dekat yang meninggal, maka satu ruas jari wanita dipotong. Jadi, bila 5 orang keluarga dekatnya yang meninggal, maka 5 ruas jarinya yang dipotong.  Betapa sakitnya derita perempuan Wamena ini, sakit yang tak dirasakan oleh kaum laki lakinya.

Nah, Islam menerabas semua budaya zalim tersebut.  Bukan hanya budaya judi, mabuk-2an, maksiat seksual, riba, dan saling bunuh yang diberantas, akan tetapi bayi-bayi perempuan tidak lagi dikubur hidup-hidup.  Malah posisi perempuan ditinggikan derajadnya.  Dalam ajaran Islam dipatrikan nilai bahwa “sorga itu terletak di bawah telapak kaki ibumu” atau “penghormatan anak kepada ibu 3 kali lebih tinggi dari bapak”, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah. Dan, kalam Illahi “La taqrabzuz zinna”  betul-betul memanusiawikan kaum perempuan. Posisi terhinanya sebagai pemuas nafsu bejad laki-laki tidak lagi jadi budaya. Barangkali, ajaran Islam inilah yang menginspirasi masyarakat modern makin menghormati harkat wanita.

Keajaiban Matrilini Minangkabau

Ajaibnya dimana? Nenek moyang orang Minang berasal dari wilayah yang menganut budaya patrilini, yaitu kawasan-kawasan yang berada di wilayah Cina Selatan yang bermigrasi sekitar 2500-2000 tahun lalu.  Dan, kalau diyakini pula Tambo, bahwa orang Minang keturunan Sultan Iskandar Zulkarnaini, Sultan tersebut juga penganut patrilini.   Selanjutnya, agama yang pernah dianut oleh orang Minang berawal dari Hindu dan Budha. Penganut kedua agama ini juga bukan berbudaya matrilini.  Sebelum masuk kedua agama tersebut, orang Minang disebut menganut animisme, maka animisme di mana pun juga tidak kenal dengan matrilininya Minangkabau.

Nah, ajaib dan spektakularnya budaya matrilini ini adalah andai kita mau merenung sejenak, bukankah merubah budaya dan keyakinan massal itu luar biasa beratnya?  Apalagi keyakinan massal itu ajaran agama. Metamoforsis patrilini ke matrilini adalah sebuah proses budaya yang maha berat. Dalam diksi gaul disebut, itu pekerjaan manusia setengah dewa.  Ajaibnya itu terletak dari perubahan hak mutlak laki-laki sebagai penguasa harta dan warisan, beralih kepada kaum perempuan, yang di zaman antah barantah itu masih berada pada posisi inferior.

Sayangnya, kita tak memiliki catatan sejarah yang menyebutkan siapa penggagas matrilini ini dan kapan dimulai. Kalau dimulai dari pusat budaya, seperti di zaman Dt. Sri Maharadjo Dirajo di Pariangan Padang Panjang atau di era kerajaan Pagaruyung di Tanjung Bungo Tanah Datar, pertanyaannya siapa penyebarnya? Kok bisa menjadi anutan orang minang, baik yang berada di luhak nan tuo___darek, maupun di rantau____pesisir.

Yang pasti, budaya matrinili lebih dulu hadir, sebelum Islam berkembang di Minangkabau.  Islam, sudah mulai disyiarkan oleh musafir Arab dan pedagang Arab dan Parsi pada tahun 1436 M.  Buya Mahmud Yunus menyebut lebih awal, yakni dikembangkan oleh  Syech Burhanuddin Al-Kamil, yang wafat pada tahun 1214 Masehi.   Akan tetapi, keberadaan Islam itu hilang timbul. Ajaran Islam menghilang seiring kepergian sang pensyiar.

Islam baru berkembang permanen di wilayah Minangkabau sejak kehadiran Syech Burhanudin Ulakan dengan 4 kawannya, sepulang dari menuntut ilmu agama pada Syech Abdur Rauf di Singkil Aceh, mulai  tahun 1656 M hingga wafatnya Syech Burhanudin ini pada tahun 1697 M.

Oleh karena itu, suatu hal yang barangkali perlu dicatat adalah bahwa nenek moyang etnik Minangkabau ini adalah pionir yang paling berjasa mengangkat harkat dan martabat kaum wanita di muka bumi ini. Konsep penyelamatan wanitanya, malah lebih komprehensif, karena dimulai dari perlindungan ekonomi terhadap kaum wanita melalui aturan adat pewarisan harta pusaka.  Hak waris untuk kaum wanita memposisikan wanita lebih kuat secara ekonomi.  Kuat secara ekonomi, membuat wanita tak mudah terjerembab kepada tragedi menjual diri.   Bahkan, peran wanita makin diperhebat di era kerajaan Pagaruyung, dimana Bundo Kandung diposisikan sebagai pemegang peran sentral, sebagai limpapeh Rumah Nan Gadang.  Bundo Kandung juga memiliki hak politik dalam pemerintahan di kerajaan  Pagaruyuang.

Jadi, roh budaya matrilini Minangkabau itu adalah  perlindungan wanita yang bersandi kepada penguasaan hak ekonomi utama “era saisuak” (land as social capital) oleh perempuan yang diatur dalam konsep pewarisan pusaka dan rumah gadang. Matrilini, sebagai konsep teragung dalam peradaban manusia merupakan restrukturisasi  tatanan rumah tangga sakinah-mawadah-nya Adam dan Hawa di surga, dimana saling menyayangi, menghormati,  dan melindungi dirawat bersama, tanpa mengenal posisi superioritas dan inferioritas antara laki-laki dan perempuan.  Sebuah restrukturisasi spektakular azas berumah tangga yang sudah tercabik dan terkoyak oleh superioritas kaum laki-laki di era purba dan gelapnya peradaban.