Indonesia Negeri Haa, Hiii-nya Gus Mus

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Indonesia Negeri Haa, Hiii-nya Gus Mus

AGUS TAHER
Rabu, 05 Februari 2020

Oleh: Agus Taher

Ilmuan, cendekiawan, wartawan, dan seniman sama-sama memiliki talenta yang lebih mumpuni dalam menangkap dan manfafsirkan fenomena alam dan perilaku kehidupan ini secara tepat, meskipun renungan para ahli filsafat lebih tajam dan  sering dicatat sebagai kata-kata bijak.  Sementara seniman-seniman cerdas seringkali melahirkan buah renungan yang lebih jujur, karena mereka tidak hanya mencerna sesuatu itu dengan logika, akan tetapi dimaknai dengan nurani. Nah, percikan permenungan Gus Mus dengan judul puisi: Negeri Haaa, Hiii ini patut kita renung pula dalam melihat apa yang terjadi di Indonesia dan nasib NKRI, karena beliau adalah sosok yang bukan sembarangan.

Tamatan Al-Ahzar Kairo 1970, dalam jurusan Studi Keislaman dan Bahasa Arab ini, bukan hanya seorang Kiyai dan pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, akan tetapi beliau adalah mantan Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) periode 1994-1999 dan 1999-2004.  Sosok yang bernama lengkap KH Achmad Mustofa Bisri, yang juga seorang penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim ini menjadi begitu spesial dalam kehidupan berbangsa, karena kebersahajaannya bukan direkayasa.  Alami, sudah menjadi karakternya. Dan,  kebiasaan Gus Mus memberi masukan dan kritikan dengan caranya sendiri, seperti melalui puisi, menjadi ikon tersendiri dari sosok teman dekat Gus Dur ini.

Memaknai Puisi Gus Mus

“Sembunyikanlah kesedihan dan kejengkelanmu dengan tertawa, karena semuanya akan tertutupi dengan baik”.  Sepertinya, itu yang disiasati Kyai Mustafa Bisri ketika memilih judul puisinya, sekaligus dipresentasikannya dengan kocak. Padahal substansi puisi ini menyimpan sejuta kemuakan, kejengkelan, dan frustasi sebagian besar anak bangsa.

NEGERI HHAA Hihiiiii

Puisi Karya: GUS MUS

Bukan karena banyaknya grup lawak, maka neg'riku selalu kocak
Justru grup-grup lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak
Neg'riku lucu dan para pemimpinnya suka mengocok perut
Banyak yang terus pamer kebodohan dengan keangkuhan yang menggelikan
Banyak yang terus pamer keberanian dengan kebodohan yang mengharukan
Banyak yang terus pamer kekerdilan dengan teriakan yang memilukan
Banyak yang terus pamer kepengecutan dengan lagak yang memuakkan, haaa

Penegak keadilan jalannya miring,
Penuntut keadilan kepalanya pusing,  Hakim main mata dengan maling,
Wakil rakyat baunya pesing, hiii 
Kalian jual janji-janji untuk menebus kepentingan sendiri
Kalian hafal pepatah petitih untuk mengelabui mereka yang tertindih
Pepatah petitih ach, haaa, 

Anjing mengonggong kafilah berlalu,
Sambil menggonggong kalian terus berlalu, haaa
Ada udang dibalik batu, udang kepalanya batu, haaa
Sekali dayung dua pulau terlangkahi, sakali untung dua pulau terbeli, haaaaa
Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meningggalkan belang,
Kalian mati meninggalkan utang hhaa haaaa

Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, 
Lebih baik, yuk main hujan-hujanan caci maki, haaa
---------------------00----------------

Ada beberapa substansi menarik dalam puisi Gus Mus ini.  Yang diomelin itu hurufnya saya bikin tebal. Nah, membaca puisi Neg’ri Haaa hiii ini sudah dapat disimpulkan bahwa sasaran tembak Gus Mus  adalah pemimpin, Hakim, Wakil Rakyat, dan Pebisnis.

Sindiran Gus Mus amat tajam terhadap pemimpin, yang mesti juga dimaknai sebagai semua pemimpin di level manapun, mulai pemimpin formal hingga pemimpin informal.  Jadi, ketika Indonesia makin disesaki oleh pemimpin yang tidak berintegritas, bodoh, angkuh, dan sombong, termasuk berjiwa pengecut dan kerdil, maka Gus Mus tetap mengajak anak bangsa ini untuk tersenyum dan tertawa.  Tetaplah bercanda, karena Indonesia masih  memiliki pemimpin yang amat spesial, karena  pemimpin itu lucu, memiliki kehebatan yang membuat kita tertawa ngakak, ketika kita mestinya menangis disebabkan berbagai penderitaan.  Mestinya kita panik, karena harga-harga makin selangit.

Dan, karena kita sedang hidup di era yang masih hebat budaya korupsinya, dimana hakimnya makin canggih bermain mata dengan maling, maka biarlah penegak keadilan itu jalannya miring, karena kita masih bisa tertawa melihatnya tak bisa berjalan lurus. Lucu juga kan!

Lebih jauh, Gus Mus masih mengajak kita untuk tak merisaukan wakil rakyat baunya pesing, bau duit dalam amplop yang barangkali dikencingi tikus, atau tak usahlah menggonggongkan kebenaran, karena si pencundang itu tetap saja berlalu.  Bahkan dari larik puisinya yang berbunyi: Anjing mengonggong kafilah berlalu, Sambil menggonggong kalian terus berlalu, dapat juga dimaknai bahwa yang kafilah itu adalah anjing yang menggonggong.  Maling teriak maling, yang dimalingnya bukan sedikit, karena sekali maling, dua pulau terbeli.  Maling era now pun sudah semakin nekad,  mereka tak lagi bersembunyi di balik batu, sebab kepalanya sudah membatu.

Di bagian akhir puisinya, Gus Mus juga mengatakan kepada kita jangan lagi pikirkan apabila gajah mati tidak lagi meninggalkan gading, dan harimau mati tak meningggalkan belang, karena ketika elit bangsa mati meninggalkan utang, masih ada caranya untuk mengatasi. Caranya kata Gus Mus:  “bermain hujan-hujanan caci maki” !!!

Jadi, yang ingin dikatakan Gus Mus dalam puisinya adalah “wahai bangsaku, pandai-pandailah menterjemahkan kebodohan dan kekerdilan pemimpin, bobroknya penegak hukum yang mempermainkan hukum, memuak-kannya wakil rakyat yang tak peduli rakyat, dan kongkalingkong yang semakin merajalela.  Jadikanlah tragedi kebangsaan itu sebuah kelucuan yang menghibur, karena hampir tak ada peluang merubahnya.