Fenomena Jatuh-Bangunnya Bangsa

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Fenomena Jatuh-Bangunnya Bangsa

AGUS TAHER
Rabu, 05 Februari 2020
Gambar; Sisa peninggalan imperium Persia (atas) dan mesjid Cordoba yang sekarang berubah fungsi sebagai katedral.(ist)


Oleh: Agus Taher

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (QS.3:140); “Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (QS. 21:11).

Dua ayat Al-Quran tersebut secara tegas menyebutkan bahwa jatuh bangunnya suatu bangsa itu sudah menjadi hukum alam,  berjaya atau runtuhnya suatu rezim penguasa bukanlah barang langka. Pemimpin yang dicintai rakyatnya akan langeng kekuasaannya, sementara pemimpin yang zalim bukan hanya prasyarat untuk tumbangnya seorang penguasa, bahkan runtuhnya sebuah negara. Penyebabnya, karena ditangan penguasa zalim biasanya terjadi kebangkrutan ekonomi, sebagai biang dari munculnya kegaduhan sosial dan politik.

Selanjutnya, dalam konteks pergiliran takdir suatu bangsa, maka jatuhnya sebuah bangsa tidak selalu mampu bangun kembali seperti sediakala.  Imperium terbesar dunia, Britania Raya hanya mampu bangkit sebagai negara Inggeris yang wilayahnya jauh lebih kecil, imperium Persia mampu bangun hanya sebatas negara Iran, begitu juga Mongolia yang di zaman Jengis Khan memiliki wilayah seluas 33 juta km2 hanya mampu berdiri dengan luas wilayah baru seluas 1.5 km2 setelah dikalahkan oleh Dinasti Ming, Cina pada tahun 1368 M.

Kekuasaan Islam pun yang memiliki wilayah sampai ke sebagian wilayah Eropah, setelah kalah perang, hanya menyisakan negara Turki di benua Eropah, sementara jazirah Arab tercerai berai menjadi negara-negara kecil, seperti Arab Saudi, Mesir, Yaman, Oman, Irak, Iran, dan lainnya. Malah, mesjid Agung di Cordoba, meskipun bentuknya masih seperti dulu, akan tetapi fungsinya sudah berubah sebagai gereja dan objek wisata.

Bagaimana Indonesia ?   Nasibnya hampir mirip.  Jatuh dan tak mampu bangun sempurna. Majapahit yang amat disegani pada abad  ke 13, yang luas wilayahnya meliputi nusantara, Malaysia, Singapura, Vietnam dan Burma, sekarang mengecil seluas NKRI sekarang.  Apakah reputasinya masih disegani seperti dulu? Sulitnya menjawabnya, karena akan menuai perdebatan !

Keajaiban Peradaban

Bangsa yang bertahan dengan kebodohannya, serta sulit hadirnya pemimpin yang visioner dan berintegritas adalah faktor penentu sebagai penyebab runtuhnya suatu bangsa dan hilangnya peradabannya. Itu yang dipertontonkan oleh bangsa Mongolia dan Dravida di Asia, serta Inka di Amerika, termasuk beberapa negara kecil di Afrika.

Meskipun demikian, megatren peradaban dunia juga memberikan catatan-catatan penting dalam kebangkitan sebuah bangsa.  Di Eropa, negara boneka Perancis di era Napoleon Bonaparte, yang bernama Belanda, mampu berkembang sebagai bangsa penting di Eropah.  Jepang yang hancur lebur negaranya dan porak poranda ekonominya selepas jatuhnya bom atom di HIroshima dan Nagasaki tahun 1945, bisa berkembang sebagai negara maju dalam tempo 25 tahun.  Yang lebih hebat lagi, Korea yang pernah dijajah Jepang dari tahun 1910-1945, juga mampu bangkit sebagai negara Korea Selatan yang dalam tempo singkat mampu menjadi negara industri luar biasa sejak 1990-an, sementara Korea Utara berkibar sebagai negara kuat yang disegani, karena memiliki senjata nuklir dan ipteknya maju.

Dan, yang paling super peradabannya tetap Cina.  Cina adalah bangsa paling berpengalaman di dunia dalam menghadapi jatuh bangunnya sebuah otoritas, mulai dari dinasti pertama,  Xia (2100 SM-1600 M) hingga dinasti ke 17, Qing (1644-1911 M). Cina pun pernah dikuasai Mongolia dari  1279 M hingga 1368 M, akan tetapi mampu menaklukkan bangsa Mongol pada 1388 M.  Manchuria yang sejak lama menjadi wilayah kekuasaan China, pernah dikuasai Jepang, sekaligus membentuk negara boneka Jepang, dengan rajanya Henri Puyi, juga pernah dicaplok Rusia pada era kaisar Tsar.  Akan tetapi, akhirnya kembali berada dibawah pengusaan Cina sejak 1945.

Disamping itu, Cina yang masih menyandang status sebagai negara miskin sejak diproklamirkan pada tahun 1949.  Akan tetapi, berkibar sebagai negara industri maju sejak pemerintahan Deng Xio Ping tahun 1980.

Catatan terpenting dari sub topik Fenomena Jatuh Bangunnya sebuah bangsa di dunia adalah perbedaan strategi antar bangsa untuk bangkit dari keterpurukannya.  Sebagian besar bangsa bangsa di dunia, seperti negara-negara Eropa, Jepang, dan Korea mampu berkibar sebagai negara-negara yang sejahtera, dipicu oleh keuletan masyarakat, hadirnya pemimpin visioner yang memiliki integritas, penguasaan iptek, serta tepatnya grand design pembangunan bangsa, dan iklim politik yang kondisif.

Sementara, Cina sebagai negara yang berpenduduk terbesar dunia, masih menggunakan resep lain, yakni menerapkan ideologi komunis. Jhon Naissbit menyebut Cina sebagai negara sosialis yang berjubah kapitalis.   Bagi Cina, ajaran komunis, yang cenderung atheis, adalah senjata pemungkas utama untuk meredam turbulensi sosial dan politik.  Ideologi komunis memberi peluang besar untuk menerapkan konsep brutalisme, untuk membungkam setiap perlawanan rakyat. Bagi China, masa bodoh soal HAM.  Di Cina, semua anggota partai komunis dilarang memeluk agama apa saja.  Itu sebabnya, 90 juta anggota partai komunis Cina bisa mengendalikan 1.4 milyar penduduknya, yang pada dasarnya adalah etnis yang sering bergolak, ketika tertindas.  Betapa heroiknya pendekar-pendekar silat China sebagai pejuang kemanusiaan sangat jelas terbaca dalam sejarah panjang kebudayaan budaya Cina di masa lalu.  Agaknya, dengan resep super ini, bangsa Cina akan menjadi emperium baru di era modern.

Buat Indonesia, apa arti dari keberadaan sebuah imperium besar berada tak jauh dari nusantra.  Entahlah, beragam tafsir pasti mengemuka, karena isi kepala pasti tak sama.

https://www.tribunnews.my.id
Gambar; Sisa peninggalan imperium Persia (atas) dan mesjid Cordoba yang sekarang berubah fungsi sebagai katedral.(ist)