CUPLIKAN 3

Iklan Semua Halaman

Header Menu

CUPLIKAN 3

AGUS TAHER
Jumat, 14 Februari 2020



        Lin Hwa masih saja tergolek letih. Belum bangun sejak siang tadi, meskipun ombak sudah mulai menggila. Gadis ini sedang mengalami kelelahan lahir batin. Hebatnya, Ia tetap cantik dalam keadaan tertidur pulas. Bibir tipisnya terkatup indah. Tak menganga seperti kebanyakan orang yang sedang tertidur keletihan.
            Byaaar !!!  erjangan ombak sekali ini betul-betul gila. Beberapa kursi beterbangan menghantam dinding gladak. Sebuah meja melayang, kemudian kecebur ke laut.
      Plakkkkk. Kepala Lin Hwa juga menghantam dinding kamar penumpang. "Mamaaaa" tiba-tiba Lin Hwa menjerit histeris. Rupanya benturan keras itu membangunkan Lin Hwa. Barangkali Ia sedang bermimpi. Atau ketika tersadar, Ia ingat lagi pembantaian orang tuanya oleh begundal kerajaan Yuan. 
       Memang begitu.   Masih jelas bagi Lin Hwa, sambaran pedang si brewok yang bertampang sangar menebas leher ayahnya hampir putus. Si kerempeng berambut panjang, sambil tertawa melempar tombaknya dalam jarak dekat. 
        Blesss !!!    Tombak bergerigi itu tepat menghunjam di jantung ibunya.  Ibunya, mati seketika, tanpa suara. Tangis Lin Hwa semakin keras, matanya liar ketakutan.  "Moy, moy, ingat Thian. Momoy, suhu disampingmu" kata Xin Fao sambil menguncang-guncang bahu Lin Hwa. Gadis itu langsung menubruk tubuh Xin Fao, menyeruduk ke pelukan gurunya.  Namun, tangisnya belum usai. Masih kedengaran isaknya. 
      "Kita bangsa Han,  Lin Hwa. Orang kita biasa terbunuh. Dan, orang Han selalu tegar, agar mampu balas membunuh".  Pelan, Xin Fao menenangkan muridnya yang baru beberapa purnama belajar dasar-dasar silat Shaolin dengannya.
        Bicara Xin Fao memang pelan, tetapi terasa amat berwibawa dan berpengaruh, karena disertai pengerahan lweekang, tenaga dalam tingkat tinggi. "Kau calon pendekar Lin Hwa, Jangan cengeng nak"  bisik Xin Fao ke telinga muridnya ini. 
         Mangkus dan mujarab !  Isak dan tangis Lin Hwa berhenti. Pelan, Ia menengadah, menatap dalam-dalam bola mata gurunya. Gerahamnya terdengar menggeretak, wajahnya kaku seperti menahan amarah dan dendam.
Pelan, kepalanya kemudian menunduk. Bersandar ke bahu Xin Fao. Hening seketika. Xin Fao pun membiarkan saja keheningan itu hanya ditingkah desir ombak yang bicara.
       "Kemana kita suhu" tiba-tiba Lin Hwa bersuara.   "Sungai Ngiang.  Ke tempat pamanmu Tiong Bong Kok". Lin Hwa menarik tubuhnya, kemudian memandang gurunya kaget.  "Mengapa meninggalkan Tiongkok suhu" kata Lin Hwa gagap.  Baginya, meninggalkan Tiongkok, berarti meninggalkan Gan Fau Czi.  Itu yang tiba-tiba terfikir olehnya sebentar tadi.
      "Lin Hwa, kita tak punya siapa-siapa lagi di Tiongkok". kata Lie Xin Fao.  Gadis yang sedang murung itu diam. Ia menyandar lagi di bahu gurunya.      Lama Ia membisu, kemudian mukanya menatap ke langit senja yang mulai memerah. Tiba-tiba Xin Fao merasa ada tetesan air yang jatuh, dan bahunya basah.  Wanita pendekar ini tahu, Lin Hwa sedang menangis. Dibiarkannya saja. Biarlah gadis itu menangis, agar beban batinnya semakin berkurang.
      Batin gadis keibuan itu membenarkan kata suhunya. Di Tiongkok memang tak ada lagi orang tua dan saudara dekatnya.  Semuanya terbunuh. Sekarang, dirinya sebatang kara. Harapan satu-satunya hanya Gan Fau Czi, kekasihnya. Namun, berbilang musim orang yang disayangnya itu tak pernah berkhabar berita.   Gan Fau Czi hilang tak tentu rimbanya.
       Ach, aku salah, bisik batinnya tiba-tiba.   Mana mungkin pemuda setampan Fau Czi tak punya pacar baru. Di Han Pha Njang saja, begitu banyak gadis-gadis cantik yang menggilainya. Ia sendiri pun tak tahu, kenapa Fau Czi dulu memilihnya. Namun, Ia ingat pula omongan ibunya. "Jangan percaya mulut lelaki, Lin Hwa. Pembohong semua !!!
       Ingatan pada omongan terakhir ibunya ini betul-betul meremukkan batin Lin Hwa. Keteguhan cintanya terguncang. Barangkali Gan Fau Czi, memang sudah melupakannya. Mungkin juga, sikap cinta Gan Fau Czi selama ini adalah kebohongan berbungkus rasa sayang.
       Lin Hwa membatin, barangkali pesan ibunya itu benar. Mana mungkin ibunya membohonginya. Barangkali, Ia yang selama ini tak pandai membedakan kepura-puraan dengan sikap sayang Fau Czi. Gurauan Fau Czi yang barangkali dianggapnya kasih dan cinta. Ia salah, karena terlalu mencintai Fau Czi sepenuh hati.
       Begitulah, meskipun sekuat tenaga Lin Hwa berusaha untuk tak dianggap cengeng, namun deraian airmatanya tetap saja turun deras.
       Lama sekali Lin Hwa diam.   Dagu gadis cantik itu masih bertengger di bahu Lie Xin Fao. Namun naluri pendekar Xin Fao berkata lain. Segera dibalikkannya tubuh Lin Hwa.  Rupanya dugaannya benar. Lin Hwa tertidur, seperti orang pingsan. Kelelahan batin lagi si cantik ini.
     "Kasihan kau nak" bisik Xin Fao. Ia kemudian merebahkan Lin Hwa ke pembaringan.  Lama juga Xin Fao memandang muridnya yang tak pernah sepi dari penderitaan itu.  Dipandangnya dalam-dalam wajah Lin Hwa. Ia kaget, ternyata di sudut mata Lin Hwa ada butiran airmata. Dalam tidur, sepertinya Lin Hwa menangis. Dan sekali ini, Lie Xin Fao tak kuasa menahan diri. Tak biasa, di senja berlangit merah itu, seorang pendekar Cina papan atas menangis. Semilir angin laut pun tak mampu membendung guru silat ini terisak. Nasib Lin Hwa, nasibnya juga.  Ia pun sebatang kara.