Behind the Song Nan Tido Manahan Hati

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Behind the Song Nan Tido Manahan Hati

AGUS TAHER
Rabu, 05 Februari 2020

Oleh: Agus Taher

Nan Tido Manahan Hati, terpilih sebagai lagu daerah terlaris yang dicetak diatas pita kaset HDX, sehingga berhak memperoleh ANUGRAH HDX tahun 1995.  Album ini mengalahkan 2 nominator lainnya dari Sunda dengan penyanyinya Nia Daniati, satunya lagi kesenian Degung, juga dari daerah Sunda.  Ajang Anugrah HDX ini unik, karena kriterianya bukan selera Juri, akan tetapi jumlah omzet terjual, artinya seberapa banyak laku di pasaran.

Yang menggembirakan Agus Taher (pencipta), Buslidel (pemusik) dan Zalmon (penyanyi), adalah karena album ini merupakan produk rekaman Minang pertama yang mendapat Anugrah HDX, bahkan mampu mengalahkan lagu etnik lainnya yang lebih banyak penduduknya, seperti Jawa dan Sunda.   Yang kedua, album Bugih Lamo karya Tarun Yusuf, dengan penyanyi Melati dan pemusik Yan Umali, tahun 1996.

Lagu ini tercipta atas pesanan Zalmon.

Tahun 1989, saya baru pulang dari studi S-3 di Filipina, taragak minum cendol Mak Katik.  Di depan bioskop Mulia, ketemu Zalmon. Ia langsung mengajak saya makan di Restoran Selamat, yang terkenal dengan rendangnya.  Disana Zalmon berkisah, bahwa sejak 1984, sehabis rekaman album Biduak Pincalang yang laris itu, Dia tak lagi rekaman di Tanama Record.  Di album Biduak Pincalang ini, terdapat 6 lagu saya.

Sambil makan di restoran Selamat tersebut, Zalmon menciloteh terus, terutama kondisi ekonominya, setelah vakum rekaman hampir 5 tahun.  Ia mengharapkan, agar saya bisa membuatkan sebuah lagu yang sesuai dengan nasib dan karakter vokalnya.   Nah, ketika menyiapkan lagu untuk paket Zalmon inilah batin saya bergumul dengan bayang-bayang raut muka Zalmon ketika sedang makan di resto Selamat itu.   Raut muka memelas menahan hati, karena parasaian.

Sebulan setelah pertemuan itu, saya serahkan 7 buah lagu ke Tanama Record, produser Zalmon.   Semuanya diterima !    Alhamdulilllah, album yang dirilis dengan judul Rambayan Taduang ini tercatat sebagai album hit yang meledak di awal tahun 1989.   Dan, 3 tahun kemudian ketika diganti judul menjadi Nan Tido Manahan Hati, maka album ini pun makin laris, sehingga memperolah Anugrah HDX.

Ketika sedang menulis Behind the Song lagu ini, saya membuka akun Pitunang Record di Youtube.  Kemudian saya lihat ada komentar dari sesorang peminat musik Minang yang amat mengharukan saya.  Seseorang yang menamakan dirinya Djuragan motovlog itu menulis:

“Lagu ini pernah saya nyanyikan di pernikahan mantan saya,  saya lihat dia menangis”

Postingan Djuragan Motovlog ini mengingatkan saya pada cerita seorang pemain orgen, teman saya tahun 1996.  Ketika dia mengiringi seorang pemuda gagah di sebuah kenduri di Payakumbuh, kejadian seperti yang diposting Djuragan ini juga terjadi.  Di alek tersebut, bukan hanya mempelai wanitanya yang menangis, akan tetapi pemuda gagah itu yang lebih dulu terisak. Ia tak selesai menyanyikan lagu Nan Tido Manahan Hati ini, karena suaranya sudah serak duluan.  Malahan, Ia pun tak sempat menyalami kedua mempelai.  Selesai nyanyi, dengan gontai Ia langsung meninggalkan lokasi pesta pacarnya yang belum mampu dilupakannya hingga saat itu.

Di saat istirahat makan, teman saya pemain orgen ini mendengar beberapa orang bercerita tentang si Tukang Karcis itu.   Rupanya pemuda gagah tadi berprofesi sebagai tukang karcis bioskop, Ia amat dikenal di kampung itu.  Disebutkan bahwa mempelai wanita dan tukang karcis yang gagah ini sudah pacaran sejak SMA.

Dulu, si gagah ini juga anak orang berada, sama dengan pacarnya yang feminin dan cantik itu.  Malangnya, ketika kelas III SMA, ayah  si pemuda ini meninggal  dunia.  Hartanya habis untuk membayar tagihan utang perusahaan, disamping banyak piutang yang tak bisa ditagih.  Keluarganya bangkrut, sehingga Ia tak bisa melanjutkan kuliah.  Berbagai pekerjaan dilakoninya, sampai akhirnya menjadi tukang karcis bioskop, sementara si gadis kuliah di Kedokteran Unand, sampai meraih gelar dokter.

Sebenarnya, pacarnya itu cukup setia.  Akan tetapi, si tukang karcis ini tahu diri, terutama setelah melihat gelagat keluarga pacarnya ini yang tak lagi respek padanya.  Ia menjauh, meskipun tetap merawat cintanya dalam diam, tanpa pernah lagi mau bertemu dan berkirim pesan.   Bertahun si gadis menunggu kepastian, akan tetapi si tukang karcis selalu menghindar.   Dalam kondisi itulah sang gadis tak kuasa menolak jodoh yang disodorkan orang tuanya.  Si gadis menganggap, pacarnya ini sudah melupakannya, karena mana mungkin pemuda gagah ini tak memiliki pacar yang baru.

Begitulah ! Saya heran juga, kenapa imajinasi yang dituangkan dalam lagu Nan Tido Manahan Hati ini bisa saya saksikan contohnya di alam nyata.  Lagu ini bukan kisah saya, apalagi ketika menulis lagu ini saya tidak lagi lajang.  Hanya saja kisah sedih Zainudin dan Hayati dalam roman Tenggelamnya Kapal van Der Wijk, kisah sendu dalam beberapa cerita silat Kho Phing Ho, atau kisah-kisah yang mengharukan dalam film India yang sering juga saya tonton masih membekas di memori saya.  Romantika imajiner itu  yang saya rajut dengan raut muka Zalmon yang menahan hati ketika makan bersamanya di restoran Selamat.

Imajinasi Dalam Lagu

Nan Tido Manahan Hati mengandung makna bahwa Si miskin itu selalu bernasib mesti mengalah, karena tak bisa mewujudkan apa yang diangankan dalam hati. Ketika tak bisa “Bak Kato Hati” maka terpaksa seseorang menahan hati.        Lirik lagu dikemas dalam pola pantun, sehingga isi lagu yang menjadi latar kisah lagu ini terletak pada lirik setelah lirik sampiran.  Ada 3 pesan yang ingin diungkapkan di dalam  lagu Nan Tido Manahan Hati ini. Pertama, pengakuan jujur bahwa kehidupan nyata itu tak mungkin hanya bermodalkan cinta.  Kebahagiaan riel itu seringkali ditentukan juga oleh kondisi ekonomi, prestise, dan status sosial.
   
Cinta seringkali tak kuat menghadapi badai kehidupan, terutama akibat kondisi ekonomi yang serba kekurangan, apalagi calon pasangan hidup yang tidak terbiasa dengan kehidupan yang morat marit.   Pencinta sejati biasanya tak egois.  Dia merasa bersalah apabila orang yang disayanginya harus sengsara di tangannya.  Karena itulah, Ia harus berani mengalah, meskipun keputusan itu berat dan menyakitkan, sehingga Ia harus mengatakan:

Bialah Diak denai surang diri / Kok jo ambo mungkin sansaro

Kedua, biasanya dampak mengucapkan kata perpisahan itu tidak semudah yang kita bayangkan.  Akan tetapi, ketika tekad untuk mengalah sudah diambil, maka kebohongan yang menyakitkan diri sendiri juga terpaksa diucapkan, untuk meyakinkan sang pacar, bahwa perpisahan itulah jalan terbaik.  Dan,  dipaksakan juga untuk bilang Jangan khawatir, aku cukup kuat menghadapi perpisahan ini, padahal sebenarnya tidak.  Mana ada orang kuat kehilangan si buah hati.  Kalimat sederhananya diungkap dalam lirik:

Santano bapisah indak denai bakaciak hati
Sajak dulu, denai lah tahu  /  Mimpi-mimpi ka tingga mimpi

Ketiga, ketika deraan kehidupan sudah begitu menyakitkan, disaat keputus-asaan mulai menyesakkan, maka kita harus arif mencari pelarian dan menemukan pelipur lara secara  bijak.  Pelarian terbaik itu adalah ke jalan Tuhan, pelipur lara yang berlandaskan qadar baik dan qadar buruk, bahwa perpisahan pun adalah sebuah ujian Tuhan, serta skenario Illahi yang pasti ada hikmahnya.  Paling tidak, kita hibur hati, bahwa nasib yang kita alami ini, bukan hanya kita sendiri yang merasakannya.  Peruntungan seperti ini sudah lazim menyertai kehidupan si miskin.  Boleh jadi, kegagalan cinta menjadi pemicu spirit untuk secepatnya keluar dari status sosial yang selalu dipandang rendah oleh banyak orang.  Imajinasi inilah yang diungkapkan dalam lirik:

Lah biaso galak di nan lai  /  Rang nan tido manahan hati

Dua larik lirik ini, seringkali cukup ampuh untuk membujuk diri, karena toh kejadian yang menimpa diri itu sudah menjadi fenomena sosial dan kalau ingin tak selalu menahan hati, harus berusaha menjadi urang nan lai (orang berpunya).   Kalau perubahan itu tak mungkin dilakukan di kampung halaman, yach merantau, mengikuti jejak kawan-kawan yang sudah sukses.  Yang merantau itu orang susah. Dan, yang mau bersusah susah di rantau itulah yang biasanya meraih sukses merubah status sosial.