Agus Taher: Sumbar Perlu Menggelar Festival Lagu-Lagu Minang

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Agus Taher: Sumbar Perlu Menggelar Festival Lagu-Lagu Minang

AGUS TAHER
Selasa, 04 Februari 2020

Di tengah-tengah perkembangan industri rekaman lagu-lagu Minang dengan instrumen dan penggabungan alat musik tradisional dengan tidak mengabaikan warna khas dari musik Minang moderen yang kian berkembang tersebut.

Maka untuk meningkatkan eksistensi dan kualitas lagu-lagu Minang kedepan sudah saatnya kembali digelar festival lagu-lagu Minang dan lomba cipta menulis lirik syair dalam bentuk puisi.

Hal itu disampaikan musisi dan pencipta lagu Minang, Agus Taher didampingi musisi Sexri Budiman saat menjawab pertanyaan Semangatnews.com di lantai 2 gedung Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Senin (20/01).

Menurut Agus Taher, dari banyak agenda festival seni yang di adakan di Sumatera Barat, hanya lagu-lagu Minanglah yang sangat minim festival. Padahal melalui festival itu dapat dijadikan alat ukur atau barometer, sejauh mana lagu-lagu Minang tersebut menjadi tuan rumah di negeri sendiri di tengah-tengah derasnya moderenisasi beragam lagu-lagu daerah Indonesia yang kini tumbuh bagai cendawan subur.

Terakhir kita mencatat festival lagu Minang pernah digelar tahun 1989 lalu yang berarti sudah 31 lebih tidak ada lagi festival. Kurun waktu sepanjang itu tentulah merupakan sesuatu yang kurang pas jika kita jujur ingin melihat dan menilai perkembangan kualitas lagu-lagu Minang di tengah-tengah publiknya, ujar Agus Taher

Kemudian jika ditinjau dari lirik syair lagu-lagu Minang saat ini, kiranya juga diperlukan ada pembaharuan atau inovasi-inovasi baru yang mungkin saja muncul dari kalangan sastrawan atau pencipta puisi bahkan rekan-rekan wartawan dengan menjadikan bahasa Minang sebagai gerbongnya lirik syair lagu-lagu Minang.

Apalagi kita mengenal banyak sastrawan atau tokoh sastra pemikir maupun tokoh-tokoh penulis bahkan wartawan yang berasal dari daerah ini yang punya nama besar di Tanah Air seperti Chairil Anwar, Adinegoro, Rosihan Anwar dan lainnya yang sangat kaya dengan kalimat dan lirik kata-kata berkualitas tinggi, ujar Agus Taher.

Lirik syair lagu-lagu Minang selama ini diakui sudah baik, tetapi akan lebih baik lagi jika kalangan sastrawan maupun pencipta puisi yang sudah malang melintang di daerah ini dan punya nama besar di tingkat nasional kita rangkuh untuk bersama-sama memikirkan lirik syair lagu-lagu Minang guna memperindah bahasa Minang yang bahan bakunya ada pada mereka.

Artinya lirik syair tidak semata memakai sampiran A, B dan A, B atau AA, BB sebagaimana selama ini kita temui dalam syair lagu-lagu Minang. Kita juga bisa melihat sejumlah lirik syair puisi pada lagu-lagu Bimbo yang ditulis Taufiq Ismail, ujar Agus Taher yang di era tahun 1995 salah satu lirik syair lagunya berjudul “Kasiak Tujuan Muara” menjadi tending topik dan top HDX musik daerah terlaris di Indonesia dan anugerah Bhakti Musik Indonesia II tahun 2005.

Sementara musisi dan pencipta lagu Minang Sexri Budiman dalam kesempatan yang sama kepada Semangatnews.com juga menjelaskan, ia mengenal musisi seperti Nuskan Syarif sangat dikenal dengan lirik-lirik lagunya di era 1970 an kemudian disusul era 1980 Syahrul Tarun Yusuf dan beberapa nama lain, kemudian sesudah itu terjadi stagnan, artinya dikatakan dapat dihitung dengan jari pencipta lagu-lagu Minang yang benar-benar eksis di dunia.

Hal ini pulalah barangkali diperlukan lomba cipta lirik syair lagu-lagu Minang dengan tidak mengabaikan warna lokal sebagaimana yang jadi buah pikiran Agus Taher guna meningkatkan kualitas dan eksistensi lagu-lagu Minang di tengah-tengah publiknya. (sumber: SemangatNews)