Agus Taher, Lagu Minang Sang Doktor

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Agus Taher, Lagu Minang Sang Doktor

AGUS TAHER
Selasa, 04 Februari 2020

Agus Taher (66) sebenarnya adalah doktor pertanian bidang fisiologi tanaman lulusan University of the Philippines Los Banos, Filipina. Akan tetapi, jiwa seni yang tumbuh dalam dirinya sejak kecil juga menjadikan dia seorang seniman sekaligus sosok penting dalam perjalanan musik Minang modern.

Ismail Zakaria

Ditemui di rumahnya di daerah Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (22/1), Agus mengaku pertama kali menciptakan lagu pada 1970 saat usianya baru 19 tahun. Lagu yang ia buat liriknya dalam bahasa Indonesia. Saat itu, Agus memang belum begitu menyukai lagu Minang. Ia lebih sering mendengar lagu-lagu Emilia Contessa, Mus Mulyadi, Koes Plus, atau D’Lloyd.

Agus mulai menciptakan lagu berbahasa Minang pada 1975 dengan judul “Salendang Mayang”. Setelah menciptakan beberapa lagu, Agus akhirnya mencoba peruntungan dengan mengirimkan contoh lagu kepada penyanyi-penyanyi top Minang kala itu agar bisa direkam. Saying, seperti halnya lagu-lagu pop Indonesia ciptaannya, lagu-lagu Minang-nya juga ditolak.

“Kala itu, studio rekaman terbatas. Perusahaan tidak mau rugi sehingga lebih memilih penyanyi dan pencipta lagu yang sudah punya nama. Jadi, sulit bagi pencipta baru seperti saya untuk masuk,” kata Agus.

Setelah berkali-kali mencoba dan hampir kehilangan harapan, tahun 1977, seorang penyanyi Minang, yakni Syamsi Hasan, mau merekam lagu-lagunya. Saat itu, tujuh lagu ciptaan Agus direkam. Kesediaan Syamsi Hasan merekam lagu-lagu itu mengembalikan semangat Agus untuk terus berkarya. Dia pun terus menciptakan lagu sambil menyelesaikan tugas belajar di program pascasarjana Ilmu Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat, yang dimulainya sejak 1979.

Dia juga terus menawarkan lagu-lagunya kepada penyanyi di Jakarta. “Dari Bogor saya sering naik angkutan umum ke Jakarta untuk mendatangi rumah-rumah penyanyi. Saya ke sana sambil menenteng gitar untuk menawarkan lagu, tetapi ditolak semua,” cerita Agus.

Potongan koran

Di tengah rasa frustasi karena berkali-kali ditolak, Agus mendapat angin segar. “Tahun 1981, dalam perjalanan pulang dari IPB ke kos saya di Ciheuleut, Bogor, saya menemukan potongan koran harian Kompas. Di koran itu, ada informasi tentang Festival Lagu Minang Populer Tingkat Nasional II” katanya.

Berbekal informasi dari Kompas, Agus mendaftarkan diri dalam festival. Lagu ciptaannya, “Mandeh” (Ibu) dinyanyikan Harvey Malaiholo dan mendapatkan juara keempat. Meski hanya juara keempat, lagu itu masuk dalam album kompilasi yang dirilis perusahaan rekaman Purnama Record. Lagu itu ditempatkan di urutan pertama dan menjadi lagu Minang yang populer sepanjang 1980-an.

Tahun 1983, Agus kembali mengikuti festival. Dua lagunya, yaitu “Pitunang Saluan Nan Hilang”, yang kembali dinyanyikan Harvey dan “Minangkabau dalam Lagu I”, dinyanyikan Betharia Sonatha, meraih juara I dan IV.

“Kalau saya tidak menemukan potongan koran Kompas, saya pasti tidak akan tahu ada festival dan alamat panitianya. Saya mungkin akan terus dilanda frustrasi, ha-ha-ha,” kata Agus diikuti tawa.

Keikutsertaan Agus dalam Festival juga membuatnya optimis masuk ke dunia rekaman. “Tetapi, rupanya itu tidak mudah. Modal juara tidak menjamin produser dan penyanyi bisa menerima karya-karya saya. Penolakan tetap saya terima,” ujarnya.

Agus tetap mengotot berkarya. Selesai kuliah di Bogor, dia mencoba masuk ke salah satu perusahaan rekaman di Padang. Gayung bersambut ketika perusahaan rekaman Tanama Record menyetujui tujuh lagunya direkam dan dinyanyikan Zalmon, salah seorang penyanyi top kala itu.

Ratusan lagu

Sejak 1970 hingga sekarang, ia sudah menciptakan 491 lagu. Genre musik dan tema lirik lagu ciptaannya amat beragam mulai dari pop Minang standar, pop Minang ratok (ratap), pop Indonesia, slow rock, dangdut, Melayu, hingga zapin. Mulai dari lagu anak-anak, himne dan mars, lagu garah (lucu), dendang dan indang, serta gamad, Mandarin, dan religi.

Menurut Agus, variasi lagunya tidak terlepas dari bagaimana imajinasi seninya bekerja bersama dengan logikanya. “Mata dan batin seniman itu seperti kamera. Pada diri saya, naluri seniman dan seorang peneliti bekerja simultan untuk menangkap kesan terhadap apa saja yang terjadi atau yang ada di depan mata, lalu menulisnya dalam sebuah lagu yang berkualitas,” kata Agus.

“Saya memegang filosofi, bekerjalah kamu untuk hal-hal yang kamu senangi sehingga memberikan sesuatu yang luar biasa. Saya sangat menyenangi seni dan penelitian,” kata mantan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumbar itu.

Maka, penelitian dan seni bisa berjalan beriringan. Disertasinya yang berjudul Physiological and Lipid Changes in Some Upland Rice Cultivars Grown under Drought Stress (Pengaruh Stres Air terhadap Perubahan Fisiologis dan Kadar Lipid pada Beberapa Kultivar [Varietas] Padi Gogo) mendapat Disertation Award University of the Philippines Los Banos sebagai disertasi terbaik.

Agus, yang tengah menulis sejumlah buku, termasuk buku tentang cerita di balik lagu-lagu ciptaanya itu, disebut sebagai seniman yang pertama kali mengusung puitisasi dalam pop Minang. Puitisasi lagu yang dia mulai sejak 1981 itu memiliki ciri khas hilangnya pola pantun sehingga lirik tidak lagi mengenal sampiran. Lirik langsung ke isi atau pesan lagu. Pola itu bertujuan agar lagu makin utuh dalam menjalin kisah dan tema. Lirik lagu juga semakin kaya.

Di luar itu Agus membantu memperbaiki irama dan lirik lagu karya pencipta-pencipta lagu lainnya. “Tetapi, untuk yang ini, saya tidak pernah mau memasukkan nama saya sebagai pencipta. Tetap nama orang itu saja yang ditulis,” kata Agus.

Pengagum berat Buya Hamka itu juga melahirkan pencipta-pencipta lagu baru. Pencipta lagu baru itu bukan hanya dari kalangan seniman, melainkan juga kalangan wartawan, termasuk komponis yang bekerja sama dengannya.

Perusahaan rekaman Pitungan Record yang dia dirikan dengan modal dari menggadai surat keputusan pegawainya pada 1991 juga sukses melahirkan album Minang yang laku keras dan penyanyi-penyanyi top. Pitungan hingga saat ini masih aktif.

Dalam usianya yang lanjut dan di tengah kesibukannya sebagai peneliti, ia terus berkarya. “Dalam seribu orang, belum tentu ada satu orang pencipta lagu. Kemampuan ini adalah anugerah bagi saya sehingga tidak boleh disia-siakan,” kata Agus.

Agus Taher

Istri: Yunimisnun

Anak

Ghita Morinda
Raymall Ramayon
Lahir: Kota Padang, 9 Agustus 1951

Pendidikan: S-3 Fisiologi Tanaman University of the Philippines Los Banos, Filipina

Penghargaan:

Anugerah HDX untuk album daerah terlaris (1995)
Satyalencana Wirakarya sebagai peneliti berprestasi di bidang lahan gambut dari Presiden Soeharto (1995)
Anugraha Bhakti Musik Indonesia II (2005)
Citra Musik dari Gubernur Sumbar Muchlis Ibrahim (1998)
Anugerah Musik dari Gubernur Sumbar Zainal Bakar (2004)
Anugerah Tuah Sakato dari Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi (2008)

Sumber: Kompas.9 Februari 2018