AGUS TAHER dan Karir Musiknya

Iklan Semua Halaman

Header Menu

AGUS TAHER dan Karir Musiknya

AGUS TAHER
Rabu, 05 Februari 2020
 AGUS TAHER dan Karir Musiknya

Dilahirkan sebagai seorang anak petani, di sebuah desa yang diapit oleh Batang Arau dan Bukik Lantiak, bernama Seberang Palinggam.  Dulu, desa kecil ini sejuk dan nyaman, karena air Batang Arau masih jernih, sedangkan Bukik Lantiak dan bukit-bukit di sekitarnya masih rimbun. Desa ini sering juga disebut Kampuang Suduik, menggambarkan keterpencilannya, malah dijadikan areal pekuburan bagi perantau non Padang.  Akan tetapi dari desa inilah jagoan-jagoan Salaju Sampan tempo doeloe dilahirkan, sehingga lagu Dayuang Palinggam yang terkenal itu pun lahir.

Di desa inilah untuk pertama kali Agus Taher mengenal musik.  Dekat rumahnya ada sebuah orkes Melayu bermarkas, serta  dari rumah itulah untuk pertama kali Ia belajar gitar.  Dan, dari desa ini pula Ia untuk pertama kali ikut klub musik tradisi, yang disebut Gamad.

Separoh masa remajanya dihabiskan di Lolong Ulak Karang, kampung ibunya, yang debur ombaknya masih terdengar jelas dari rumahnya.  Kampung nelayan ini juga memiliki jagoan-jagoan Selaju Sampan.  Petarung-petarung selaju sampan dari tanah kelahirannya, Palinggam dan kampung ibunya, Lolong Ulak Karang inilah yang biasa saling rebutan menjadi juara Salaju Sampan era 1960-an.   Dan, di desa Lolong ini pula Agus Taher untuk pertama kali ikut grup band klas kampungan yang disebut band aki.

Apabila ditelisik dari garis keturunan kedua orangnya, maka tidak ada jejak seniman  yang diwariskan padanya. Belajar musik pun tidak, sehingga Ia tidak mengerti not angka, apalagi not balok.  Ia pun tak paham istilah istilah musik,  meskipun Ia telah mencipta 482 lagu, yang sangat variatif motif dan temanya. “Barangkali sasek hantu”  katanya bergurau.

Meskipun tidak menguasai ilmu musik secara akademis, akan tetapi Ia memiliki feeling yang sangat kuat.  Disamping setiap notasi lagu baru biasanya lengket di kepalanya, Ia pun masih ingat irama semua lagu yang pernah diciptakannya.

Ia pun menguasai teknik bernyanyi bintang-bintang hebat, mulai penyanyi gamad, Melayu, Semenanjung Malaya, dangdut, pop Indonesia, ataupun pop barat.  Paling tidak Ia mengerti salah janggalnya atau hadir tidaknya keindahan harmoni, ketika sebuah nyanyi didendangkan.  Pengalaman inilah yang dimanfaatkannya ketika menjadi penata vokal untuk semua penyanyi yang rekaman di perusahaannya.

“Ini betul-betul anugrah” katanya serius. Baginya, salah satu cara mensyukuri anugrah inilah dengan sikap tak boleh berhenti mencipta, meskipun usianya sudah senja.

Ia menganggap dan mensugesti dirinya bahwa Allah memberinya anugrah bakat dan talenta, akan tetapi juga dititipi amanah untuk membantu seniman lain populer dan mengidola, seperti beberapa penyanyi kondang Sumatera Barat melalui perusahaan rekaman miliknya, Pitunang Record, mulai dari Zalmon, Anroys, Dessy Santhia, Ody Malik, Febian, Ima Gempita, hingga Elda dan Rommy Tan.

Beberapa penyanyi lain juga meraih sukses pertama, ketika menyanyikan lagunya, seperti Thalia Koto melalui lagu Nasib Cinto dan Nyanyian Bundo, produksi Triple R, Jakarta dan Widya Rezki dengan lagu Nan Tido Manahan Hati, produksi The Head Studio.  Beberapa penyanyi top Sumbar lainnya, meskipun sudah malang melintang dalam dunia rekaman, akan tetapi menghasilkan beberapa lagu abadi melalui lagunya, seperti Rosnida Ys dengan lagu Rilakan Nan Tamakan, serta Tiar Ramon dengan lagu Slamat Jalan Buya Hamka, Diseso Bayang, Rinai Pambasuah Luko, termasuk mantan Mendagri Gamawan Fauzi melalui lagu Si Bunian Bukik Sambuang.  Bahkan sebagian besar orang Minang lebih mengenal Harvey Malaiholo lewat lagu Mandeh karya Agus Taher dibandingkan lagu-lagu pop nasional yang pernah dinyanyikan penyanyi berdarah Maluku ini.

Satu hal yang menarik dikemukan adalah naluri Agus Taher yang ibarat kamera, selalu memotret apa saja yang menggugah dan menggelitik di lingkungannya, mulai dari persoalan nasib, sosial budaya, bencana, termasuk aspek sosial politik.   Tema-tema lagu yang pernah diciptakan Agus Taher  mencakup hal-hal  sebagai berikut:

Keminangkabauan: seperti lagu Minangkabau Dalam Lagu 1, Minangkabau Dalam Lagu 2, Minangkabau Dalam Lagu 3, Pitunang Saluang Nan Hilang, Tuah Sakato, S’lamat Pagi Minangkabau, Minangkabau Bukan Kubangan Kabau.

Ketokohan: Slamat Jalan Buya Hamka, Slamat Jalan Tiar Ramon, Untuang Ada Antasari, Si Bunian Bukik Sambuang, ARCANDRA, Si Pembuka Mata.

Kebencanaan: Bancano Bukik Lantiak, Bancano Ranah Minang, Bancano Pauih Tongga, Tsunami Aceh, Gampo Badarah, Bapisah di Patamuan, Seso Parambah Rimbo, Mentawaiku Terluka.

Konflik Sosial: Rimbo Aceh Panyabuang Nyawo, Musuh Kita Bukan Kita, Singkarak Basiarak, Binalu, Pak Polisi, Konco2 Dt Maringgih, Kebiadaban Purba di Rohingya.

Paruntungan: Isak di Hari Rayo, Buruak Sisiak, Pitaruah Tabangkalai, Indak Maeto Maukua Bayang, Lupo Bacamin Diri, Cindua Takacau Hari Hujan, Paruntungan, Parasaian, Rilakan Nan Tamakan, Anak Jalanan, Ameh Timbago.

Remaja dan Cinta: Tema ini yang terbanyak, antara lain Kasiak 7 Muaro, Diseso Bayang, Rinai Pambasuah  Luko, Bulan Merah, Pusaro Mimpi, Diseso Gamang, Dendang Parintang, Sananglah Uda Ditangan Urang, Lapeh Bimbiang Tangan, Sakik Manahan Sadu, Danau Cinto, Katiko Cinto Musti Mangalah, Bianglala SMA, dan lainnya.

Wisata: Pantai Padang, Pantai Caroline, Pantai Bungus, Wisata

Garah: Gaek Pareman, Ongko Buyuang, Sikuntang-Kuntang, Tukang Sate, Antahlah Yuang, Kakobeh, Kode Buntuik, Cimporong Balau, Basigurau, Abak Si Dullah, Malin Kacindin, Moy-Moy, Kuciang Aie, Ruok, Ampek Uah, Mahajan Tuah, Rapulai Gaek.
Hymne dan Mras: Dian Petani (Faperta Unand, ISA (International Student Asosiation, UPLB Filipina), Yapadi (Yayasan Padi Indonesia), Insan OK (Kemenperin)

Religi: Lumbung Iman, Tahajjud, Kiamat, Berwuduk, Iftitah
Pendidikan: Balada Anak Pintar, Indonesiaku, Si Kecil ini Juara, Simalakasim, Anak Petani Kecil, Saparinduan.
   
Disamping keragaman tema lagu, maka karya cipta Agus Taher juga dibarengi dengan kekayaan dan keragaman motif dan genre lagu. Masing-masing motif dan genre atau nafas lagu melahirkan beberapa lagu hit, paling tidak cukup dikenal masyarakat, sebagaimana dikemukakan dibawah ini:

Pop Minang: Kasiak 7 Muaro, Cinto Putiah Babungo Ungu, Danau Cinto, Lapeh Bimbiang Tangan, Sakik Manahan Sadu
Gamad: Rilakan Nan Tamakan, Nyanyian Bundo.

Dendang Darek: Dendang Parintang, Di Pintu Mandeh Marupo, Badiang Barolah Mati, Jarek Bagatah, Putuih Tido Panyambuangnyo
Slow Rock: Katiko Cinto Musti Mangalah, Pasrah Tak Rila, Anak Jalanan, Ganggam Papisahan
Zapin: Rembulan
Indang Piaman: Baputiah Mato, Batele Je, Gajaian.
Qasidah: Nanda, Tahajjud, Kiamat, Baladanglah
Dangdut: Sadang Iyo Baindak-an, Tangisan Malam, Pencuri Hatiku
Palayaran: Bungo Ilalang, Batanggang, Isak Badarai
Country: Om Jangggo
Pop Nasional: Untung Ada Antasari, Siapa Bilang Cinta Buta
Slow Rock Nasional: Gerimis, Mama, Di Nisanmu Ada Cinta
Rabab: Dek Tabu Raso Timbarau
Rock n Roll: Rock n Roll Dut, Anak Gaul, Goyang Bor
Barat: How to Hate You, Big Eyes, Butterfly
Dendang Pauah: Lai Tabao Batinggakan
Mandarin: Moy-Moy, Malin Kacindin, Senja di Pantai Padang
Melayu: Sunyi, Hanyo Tingga Pusaro, Jauh Dimata, Sendiri Lagi
Joget: Baru Malayok Dihalau Urang, Joget Lalala
     
Lagu-lagu karya Agus Taher ini telah ikut meramaikan blantika musik di Sumatera Barat dan tanah air, setelah dibawakan oleh beberapa penyanyi, antara lain Elly Kasim, Tiar Ramon, Zalmon, Harvey Malaiholo, Betharia Sonatha, Herty Sitorus, Anroys, Dessy Santhia, Susi, Ody Malik, Febian, Ima Gempita, Elda, Rommy Tan, Rosnida Ys, Asben, Yan Juneid, Syamsi Hasan,  Fetty, Asmidar Darwis, Ratna Japang, Wilson Rako, Rayola, Widya Rizki, Thalia Koto, Dilla, Wati Yusuf, Elsa Mardian, Upik Saunang, Amir Sapuraga, Madi Gubarsa, Zulkarnain, Irni Yusnita, Sultan, Boy Sandhi, Vanny Vabiola, Monalisa, Gamawan Fauzi,, Indra Catri, Nedy Gampo, Bobby Chandra, Rony, Ocha Oktavia, Yan Guci, dan lainnya.
   
Satu hal yang sering menjadi perbincangan di Sumatera Barat adalah Agus Taher terkenal sebagai pencipta yang “kikir” mengizinkan lagunya dinyanyikan oleh penyanyi yang bernaung dibawah produser  lain.  Sebagian besar lagu-lagu hitnya hanya dinyanyikan oleh seorang penyanyi dan sebagian besar pula dibawah bendera Pitunang Record, perusahaan rekaman miliknya, yang didirikan tahun 1992.

Banyak alasan dan pertimbangan, katanya menjelaskan.  Pertama, pertimbangan bisnis, karena Ia juga produser rekaman sejak 1991. Daya jual album itu sangat ditentukan oleh kekuatan penyanyi, pemusik, lagu, studio rekaman, dan sekarang keandalan shoting edit.   Kedua, visi idealis  yaitu, agar industri rekaman Sumatera Barat mampu meniru bisnis rekaman di tingkat nasional dan internasional, dimana fenomena lagu lawas atau lagu lama tidak berulang kali direkam.

Mengulang-ulang lagu lawas dalam rekaman, secara bisnis tidak sehat, karena akan terjadi kompetisi dan saling menjatuhkan apabila beberapa produser merilis lagu yang sama.  Ketiga, membuka peluang  dan kesempatan kepada pencipta muda untuk berkiprah, sehingga Sumatera Barat makin mampu menjadi “gudang” pencipta yang handal.

Di dunia kesenian ini, Agus Taher sepertinya  kerja serabutan, baik sebagai penulis, pencipta lagu, produser rekaman, sekretaris hingga Ketua  ASIRINDO (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), maupun pencari penyanyi berbakat untuk diajak rekaman, atau bersama kawan-kawan  produser dan Polri menangkap pembajak pelanggar Hak Cipta di beberapa provinsi Sumatera.

Dalam bidang kesenian ini, Agus Taher agaknya mendapat banyak berkah Allah, antara lain sebagai Juara IV Lomba Cipta lagu Minang Populer tingkat Nasional (1981), Juara I dan IV Lomba Cipta lagu Minang Populer tingkat Nasional (1983), Anugrah HDX  (1995), Citra Musik dari Gubernur Sumbar (1998), Juara I Lomba Cipta Lagu Minang bernafaskan Islam (1999),  Anugrah Musik dari Gubernur Sumbar (2004). dan puncaknya memperoleh Nugraha Bhakti Musik Indonesia (2005), termasuk Anugrah Tuah Sakato dari Gubernur Sumbar tahun 2008.